Tinggal di Kelas: Siswa Gagal, Atau Sistem Pendidikan Yang Gagal?
WACANA mengembalikan kebijakan tinggal kelas mulai tahun ajaran 2027 perlu kita cermati. Alasannya, agar siswa lebih rajin belajar, lebih disiplin, dan tidak menganggap kenaikan kelas sebagai sesuatu yang otomatis. Tetapi, mari kita bertanya lebih mendasar.
Ketika hasil belajar siswa rendah, bahkan hasil PISA kita tertinggal, apakah kita sudah mengevaluasi cara kita mendidik anak-anak?
Jangan-jangan, selama ini siswa tidak ditempatkan sebagai subjek pendidikan, melainkan sekadar penerima pelajaran.
Guru menjelaskan, siswa mendengarkan dengan tertib, mencatat, menghafal, mengulang pelajaran, mengerjakan soal, lalu mengikuti tes. Paulo Freire menyebut pola pendidikan seperti ini sebagai banking education.
Ketika anak tidak bersemangat belajar, kita menyebutnya malas. Ketika hasilnya rendah, kita ingin memberi konsekuensi: tidak naik kelas.
Padahal, pernahkah kita bertanya, apakah metode pembelajaran kita sudah dekat dengan kehidupan, kebutuhan, dan rasa ingin tahu anak?
Jangan-jangan, kita terlalu sibuk menuntut anak menyesuaikan diri dengan sistem, tetapi kurang berusaha menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan anak.
Saya tidak mengatakan siswa tidak perlu disiplin. Standar kompetensi tetap penting. Tetapi sebelum memutuskan anak tidak naik kelas, sudahkah kita memastikan bahwa guru, sekolah, dan sistem pendidikan telah melakukan yang terbaik untuk membantu mereka belajar?
Pendidikan seharusnya bukan hanya membuat anak mau belajar karena takut tidak naik kelas, tetapi membuat mereka mampu, mau, dan terus bertumbuh melalui proses belajar.
Jadi, sebelum mengevaluasi kegagalan siswa, mari kita berani mengevaluasi sistem pendidikan kita sendiri. (Sumber : Rohmani.id)
Komentar (0)
Belum ada komentar.