Menemukan Jati Diri Batik Lumajang Antara Panggung dan Jejak Nyata

Opini & Artikel 15 Oct 2026 11:27 • 6 min read • 82 views • By Udin Syam
Menemukan Jati Diri Batik Lumajang Antara Panggung dan Jejak Nyata
Oleh: Syamsudin Nabilah*

SETELAH kemeriahan BALOS 2026 memudar, satu pertanyaan penting tetap menggema, ke mana arah perjalanan batik Lumajang? Acara yang penuh warna dan gagah itu memang membuka mata banyak pihak. Namun merayakan warisan budaya tidak boleh hanya berhenti di panggung peragaan busana. Batik Lumajang membutuhkan lebih dari sekedar tampil indah pada saat itu. Ia membutuhkan identitas yang kuat, ekosistem yang sehat, dan kehadiran yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.

MENEMUKAN CIRI KHAS YANG MEMBEDAKAN 

Kita tahu betapa kayanya nusantara ini dengan batiknya. Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik dengan corak yang luwes dan beragam. Solo dan Yogyakarta memiliki motif klasik bernuansa keraton yang sarat filosofi serta warna sogan yang ikonik. Cirebon tak tergantikan dengan motif Mega Mendung-nya yang memikat. Rembang menyimpan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa yang unik. Madura tampil tegas dengan warna cerah dan karakter yang kuat. Tulungagung tak kalah dengan batik tulis tradisionalnya. Daerah lain pun tak mau ketinggalan — Jambi dengan flora-faunanya, Banjarmasin dengan Sasirangannya, hingga Papua dan Bali dengan ornamen khasnya yang memukau.

LANTAS, APA YANG MEMBUAT BATIK LUMAJANG?

Lumajang bukan daerah yang kosong dari cerita. Di sini berdiri gagah Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa yang selalu dipuja. Di sini mengalir keindahan Tumpak Sewu yang kini mulai mendunia. Kita memiliki kekayaan alam berupa pasir mutiara hitam yang tak ternilai, sentra pisang yang pernah menghiasi meja makan kepresidenan, dan keindahan Segitiga Ranu yang menenangkan jiwa. Secara sejarah, Lumajang adalah jejak Kerajaan Lamadjang — bagian dari Majapahit Timur yang pernah dipimpin oleh tokoh-tokoh besar seperti Nararya Kirana, Arya Wiraraja, Minak Koncar.

Semua itu adalah harta karun yang belum sepenuhnya diolah menjadi bahasa visual pada selembar kain. Motif yang terinspirasi dari siluet Semeru, aliran sungai, bentuk awan khas dataran tinggi, kisah-kisah kerajaan masa lampau, hingga keunikan budaya lokal — semuanya menunggu untuk ditelurkan menjadi ciri khas yang tak dimiliki daerah lain. Jika ini terwujud, maka orang tak akan lagi bingung membedakan batik Lumajang dengan batik daerah lainnya. Ia akan dikenalkan sekilas, dicintai karena maknanya, dan dibanggakan karena keasliannya.

PERMODALAN YANG SERING TERLUPA DARI PANGGUNG 

Pemasaran memang nyawa. Tanpa pasar, karya perajin hanya akan menumpuk di gudang. Namun secara umum, pembicaraan tentang pengembangan batik di Lumajang sering kali hanya terhenti pada soal promosi. Padahal ada masalah mendasar yang jauh lebih mendesak yakni permodalan.

Banyak perajin kita yang masih berjuang dari nol. Mereka pontang-panting mencari modal awal untuk membeli kain mori, lilin, dan bahan pewarna. Karena akses perbankan yang belum ramah terhadap perajin kecil, tidak sedikit yang memaksa meminjam dari rentenir — "bank mencret" yang bunganya mencekik. Lalu, ketika karya mereka mulai dikenal dan omzet mulai bergerak naik, barulah (umumnya) negara hadir — petugas pajak datang, produknya dianggap sebagai kebanggaan daerah, namanya diekspos ke mana-mana.

Kemana negara saat mereka sedang merintis, saat tangan mereka gemetar meneteskan lilin di tengah malam buta, saat mereka bingung uang untuk membeli bahan besok pagi? Janganlah kehadiran negara hanya saat buahnya sudah manis. Hadirlah sejak benih ditanam. Memberikan akses permodalan yang mudah dan murah, baik melalui skema perbankan yang disediakan pemerintah daerah maupun melalui sumber pendanaan lain yang dikelola secara transparan. Wakil rakyat kita yang kebetulan ada di daerah pemilihan Lumajang, pun harus punya keberpihakan nyata untuk ini.

Bantuan tak harus berupa uang tunai yang habis sekaligus. Bisa berupa pelatihan manajemen usaha, akses bahan baku dengan harga lebih murah, hingga pendampingan administrasi keuangan agar perajin tumbuh menjadi pelaku usaha yang sehat dan mandiri.

BUMD JEMBATAN YANG BELUM TERPASANG 

Perusahaan Umum Daerah  (Perumda) Semeru ada dan hadir sebagai perusahaan plat merah. Ini peluang emas yang sayang jika dilewatkan. Perumda Semeru dapat berperan sebagai jembatan atau wadah pemasaran bersama bagi produk-produk batik yang telah lolos seleksi kualitas.

Bayangkan. Ada standar kualitas yang jelas, ada jaminan keaslian, ada tempat yang terpercaya untuk pengirimnya. Perumda Semeru bisa membuka ruang pamer tetap, memasukkan produk batik ke dalam paket promosi pariwisata daerah bersama Dispar dan Diskoperindag, hingga menjadi mitra pemasaran dalam skala yang lebih luas. Tentu saja ini harus diatur dengan posisi, tujuan, dan tata kelola yang jelas agar tidak menyimpang dari fungsi utamanya. Ini bukan soal menghilangkan beban, melainkan menciptakan sinergi yang saling menguatkan.

BALOS DAN LANGKAH BERIKUTNYA 

Acara BALOS (Batik Lumajang On the Stage) patut diapresiasi dan dipertahankan. Namun keinginannya butuh evaluasi yang jujur. Jangan jadikan ini sekadar pesta tahunan yang lalu lalang. Berikan ruang masukan, kritik, dan saran dari masyarakat dan para perajin sendiri. Mereka yang paling tahu di mana letak kesulitannya.

Pemerintah daerah perlu melakukan pemetaan ulang secara menyeluruh — siapa saja perajin, di mana mereka berada, sejauh mana kemampuan dan kebutuhan mereka. Kelompokkan berdasarkan kapasitasnya. Yang baru belajar butuh pelatihan, yang sedang berkembang butuh modal dan bimbingan, yang sudah mapan butuh pasar yang lebih luas. Dengan data yang utuh, kebijakan yang diambil tidak akan lagi “semburan” yang tidak tepat sasaran.

DARI ANGGUNG ke KESEHARIAN 

Tantangan terbesar batik Lumajang saat ini adalah ia masih terasa sebagai "pakaian acara". Dipakai saat Hari Jadi Lumajang, tanggal 15 setiap bulan, atau saat ada acara resmi saja. Padahal agar hidup dan berkembang, batik harus menjadi bagian dari keseharian.

Perubahan ini dimulai dari contoh terdepan. Pemerintah daerah harus menjadi pelaku pertama. Mulai dari Bupati, Wakil Bupati, Kepala Dinas, jajaran Forkopimda, hingga seluruh ASN dan aparatur negara. Kenakan batik Lumajang bukan hanya saat diwajibkan, tapi di berbagai kesempatan. Kenakanlah saat kunjungan ke lapangan, saat bertamu ke masyarakat, saat menghadiri undangan di luar daerah. Semakin sering terlihat, semakin banyak yang bertanya, semakin banyak yang tertarik untuk memilikinya.

Kemudian berlanjut ke dunia pendidikan. Perkenalkan batik Lumajang kepada anak-anak sekolah sejak dini. Jadikan hari tertentu di mana siswa mengenakan batik daerah mereka sendiri. Jika generasi muda mencintainya, maka warisan ini punya masa depan yang panjang.

Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis membuat kesimpulan sementara, bahwa batik Lumajang tidak sedang berlomba mengalahkan batik daerah lain. Ia hanya perlu menemukan dirinya sendiri. Motif yang bercerita tentang Lumajang, warna yang mencerminkan jiwa masyarakatnya, dan kualitas yang memuaskan.

Namun, keindahan di atas kertas dan di atas panggung tak akan berarti apa-apa jika tangan-tangan yang membuatnya masih hidup dalam kesulitan. Mari kita bangun ekosistem yang utuh dari hulu akses bahan baku dan modal, proses pendampingan, hingga hilir pemasaran yang membuka lebar-lebar.

BALOS telah membuka pintu. Sekarang tugas kita semua — pemerintah, perajin, masyarakat luas — untuk melangkah masuk lebih dalam, bukan sekadar menonton, tetapi bersama-sama menghidupkan. Karena lembaran batik yang sesungguhnya indah adalah batik yang tidak hanya terlihat megah di atas panggung, tetapi juga memberi kehidupan yang layak bagi mereka yang membuatnya. Semoga.

Penulis : Mantan Ketum HMI Cabang Jember Komisariat Sastra Unej. Alumni Ponpes Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep. Jurnalis.


Komentar (0)

Belum ada komentar.